Kentang Pun Korban ACFTA


Setelah membuat sejumlah industri kolaps, perdagangan bebas ASEAN-China kembali memakan korban. Kali ini menyerang para petani sayuran, khususnya petani kentang.

Serbuan kentang impor China membuat harga kentang lokal terpuruk, dari Rp 7.000 per kg menjadi Rp 3.800 per kg. Harga itu di bawah nilai titik impas sebesar Rp 4.200 per Kg. Harga kentang impor hanya Rp 2.300 per kilogram sehingga keberadaannya sangat mengancam kentang lokal.

Pekan lalu, sekitar 100 petani sayuran dari Jawa Barat berdemo di kantor Kementerian Perdagangan. Mereka minta supaya perdagangan bebas dengan China dihentikan, karena menghancurkan mata pencaharian mereka. Tak hanya dari Jawa Barat, para petani kentang di Dieng, Jawa Tengah, juga bernasib serupa.

Selama ini, kentang menjadi komoditas hortikultura yang banyak menyumbang devisa negara. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, tahun 1990 ekspor kentang Indonesia mencapai 69.353 ton. Namun setelah ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) diberlakukan tahun 2005, ekspor kentang terus menyusut. Tahun 2007 ekspor kentang turun menjadi 43.477 ton.

Penurunan ekspor itu diikuti dengan lonjakan impor. Tahun 2007 impor kentang tercatat 43.872 ton, sementara tahun 2001 angkanya baru 10.077 ton. Negara tujuan ekspor meliputi Malaysia, Singapura, dan Taiwan.

Kondisi itulah yang membuat petani berteriak. Mereka menuntut janji pemerintah, untuk melindungi petani lokal dari serbuan produk impor.

Menanggapi hal itu, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Deddy Saleh, mengatakan, protes-protes yang belakangan muncul dan bertujuan untuk memperjuangkan kepentingan petani, harus dihargai.

Dia mengatakan, kebijakan perdagangan harus juga mencakup perlindungan kepada petani. “Kalau ada petani satu komoditi yang menjadi korban, tentunya menjadi kewajiban pemerintah untuk mencarikan jalan keluarnya,” katanya.

Sejak dideklarasikan tahun 2001 dan diimplementasikan tahun 2005, ACFTA mewajibkan penurunan tarif secara bertahap. Salah satunya melalui skema Early Harvest Programme (EHP).

Program itu meliputi pembebasan perdagangan daging, ikan, produk susu dan produk ternak lain, pohon hidup, sayuran, buah, dan kacang dari semua bea masuk.

Dibuat tiga kategori pengurangan dan penghapusan bea masuk. Pertama, negara yang mengen akan tarif di atas 15 persen. Kedua, negara dengan tarif antara 5-10 persen. Ketiga negara dengan bea masuk dibawah 5 persen.

Terhitung sejak Juli 2003, dalam 3 tahun bea masuk untuk semua komoditas itu harus nol. Dengan demikian, pada tahun 2006 enam anggota maju ASEAN (Brunei, Indonesia, Malaysia, Philippina, Singapura and Thailand) sudah menghilangkan
seluruh tarif pada komoditas-komoditas itu. Beras dan minyak sawit tidak termasuk dalam perjanjian itu.

Lonjakan impor ketang dari China adalah imbas dari skema EHP tersebut. Secara keseluruhan mekanisme ACFTA masih menciptakan kondisi timpang bagi Indonesia.

Tahun 2010, defisit perdagangan Indonesia dengan negeri tirai bambu itu tercatat 4,73 miliar dollar Amerika Serikat (AS). Pada periode Januari-Juni tahun 2011 defisit masih berlanjut dengan nilai 3,1 miliar dollar AS.

Kementerian Perindustrian juga sudah melaporkan, penerapan ACFTA telah mengakibatkan sejumlah industri mengalami injury. Masalahnya sampai sekarang pemerintah tetap bertahan dengan ACFTA, tanpa upaya renegosiasi sampai kita benar-benar siap.
sumber :kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s